Rabu, 18 Januari 2012

Kehadiran kereta api

Kehadiran kereta api di Indonesia ditandai dengan pencangkulan pertama pembangunan jalan KA di desa Kemijen, Jum’at tanggal 17 Juni 1864 oleh Gubernur Jenderal Hindia Belanda, Mr. L.A.J Baron Sloet van den Beele. Pembangunan diprakarsai oleh “Naamlooze Venootschap Nederlandsch Indische Spoorweg Maatschappij” (NV. NISM) yang dipimpin oleh Ir. J.P de Bordes dari Kemijen menuju desa Tanggung (26 Km) dengan lebar sepur 1435 mm. Ruas jalan ini dibuka untuk angkutan umum pada hari Sabtu, 10 Agustus 1867.
Keberhasilan swasta, NV. NISM membangun jalan KA antara Kemijen - Tanggung, yang kemudian pada tanggal 10 Februari 1870 dapat menghubungkan kota Semarang - Surakarta (110 Km), akhirnya mendorong minat investor untuk membangun jalan KA di daerah lainnya. Tidak mengherankan, kalau pertumbuhan panjang jalan rel antara 1864 - 1900 tumbuh de-ngan pesat. Kalau tahun 1867 baru 25 Km, tahun 1870 menjadi 110 Km, tahun 1880 mencapai 405 Km, tahun 1890 menjadi 1.427 Km dan pada tahun 1900 menjadi 3.338 Km.
Selain di Jawa, pembangunan jalan KA juga dilakukan di Aceh (1874), Sumatera Utara (1886), Sumatera Barat (1891), Sumatera Selatan (1914), bahkan tahun 1922 di Sulawasi juga telah dibangun jalan KA sepanjang 47 Km antara Makasar--Takalar, yang pengoperasiannya dilakukan tanggal 1 Juli 1923, sisanya Ujungpandang - Maros belum sempat diselesaikan. Sedangkan di Kalimantan, meskipun belum sempat dibangun, studi jalan KA Pontianak - Sambas (220 Km) sudah diselesaikan. Demikian juga di pulau Bali dan Lombok, pernah dilakukan studi pembangunan jalan KA.
Sampai dengan tahun 1939, panjang jalan KA di Indonesia mencapai 6.811 Km. Tetapi, pada tahun 1950 panjangnya berkurang menjadi 5.910 km, kurang Iebih 901 Km raib, yang diperkirakan karena dibongkar semasa pendudukan Jepang dan diangkut ke Burma untuk pembangunan jalan KA di sana.
Jenis jalan rel KA di Indonesia semula dibedakan dengan lebar sepur 1.067 mm; 750 mm (di Aceh) dan 600 mm di beberapa lintas cabang dan tram kota. Jalan rel yang dibongkar semasa pendudukan Jepang (1942 - 1943) sepanjang 473 Km, sedangkan jalan KA yang dibangun semasa pendudukan Jepang adalah 83 km antara Bayah - Cikara dan 220 Km antara Muaro - Pekanbaru. Ironisnya, dengan teknologi yang seadanya, jalan KA Muaro - Pekanbaru diprogramkan selesai pembangunannya selama 15 bulan yang mempekerjakan 27.500 orang, 25.000 diantaranya adalah Romusha. Jalan yang melintasi rawa-rawa, perbukitan, serta sungai yang deras arusnya ini, banyak menelan korban yang makamnya bertebaran sepanjang Muaro- Pekanbaru.
Monumen Hari Kereta Api 28 September 1945 dan Lokomotif Uap D 52099
Setelah kemerdekaan Indonesia diproklamir-kan pada tanggal 17 Agustus 1945, karyawan KA yang tergabung dalam “Angkatan Moeda Kereta Api” (AMKA) mengambil alih kekuasa-an perkeretaapian dari pihak Jepang. Peristiwa bersejarah tersebut terjadi pada tanggal 28 September 1945. Pembacaan pernyataan sikap oleh Ismangil dan sejumlah anggota AMKA lainnya, menegaskan bahwa mulai tanggal 28 September 1945 kekuasaan perkeretaapian berada di tangan bangsa Indonesia. Orang Jepang tidak diperbolehkan campur tangan lagi urusan perkeretaapi-an di Indonesia. Inilah yang melandasi ditetapkannya 28 September 1945 sebagai Hari Kereta Api di Indonesia, serta dibentuknya “Djawatan Kereta Api Republik Indonesia” (DKARI).

Peralatan Persinyalan

Peralatan Persinyalan adalah seperangkat fasilitas yang berfungsi untuk memberikan isyarat berupa warna atau bentuk yang ditempatkan pada suatu tempat tertentu dan memberikan isyarat dengan arti tertentu untuk mengatur dan mengontrol pengoperasian kereta api.
Kata sinyal berasal dari bahasa latin "signum" yang artinya tanda. Sinyal adalah pembawa berita tentang keadaan jalan bagi kereta api bagi awak kereta api. Dilihat dari bentuknya, maka sinyal dapa dibedakan antara sinyal optis dan sinyal akustis. Sinyal optis berupa gerakan tangan, gabungan antara posisi lengan pada tiang sinyal dan cahaya yang diperlihatkan. Sinyal akustis berupa pengeras suara, suling, terompet atau peluit dan lain-lain.
Peralatan persinyalan yang pernah dipergunakan di Indonesia, antara lain :
Ikon Persinyalan Deskripsi Lokasi
sinyal_alkmaar_icon Alkmaar Persinyalan alkmaar digerakkan dengan tuas penggerak/handle sinyal secara mekanik/manual dengan tenaga manusia. Tuas penggerak/handle dengan palang sinyal pada tiang sinyal dihubungkan dengan kawat atau rantai. Ciri stasiun menggunakan persinyalan alkmaar adalah seluruh wesel menggunakan tuas penggerak wesel manual yang berada di dekat setiap wesel atau dengan kata lain wesel tidak dioperasionalkan secara terpusat. Sistem persinyalan alkmaar ini tidak bisa dirangkai dengan sinyal blok, sehingga tidak dapat dipakai pada stasiun yang berbatasan dengan stasiun lain yang menggunakan peralatan persinyalan elektrik. Ambarawa, Solo Kota, Wonogiri, Kalimas
sinyal_mekanik_icon Siemens & Halske manual Persinyalan Siemens & Halske manual merupakan sistem persinyalan yang digerakkan secara mekanik/manual dengan tenaga manusia. palang sinyal pada tiang sinyal digerakkan oleh tuas pengerak/handle sinyal yang ditempatkan di stasiun. Tuas penggerak/handle sinyal dengan palang sinyal pada tiang sinyal dihubungkan dengan kawat atau rantai. Persinyalan alkmaar dan Siemens & Halske manual dipakai di jalur kereta api dengan frekuensi perjalanan kereta api yang tidak padat. Karena tidak memungkinkan dipasang interlocking pada kedua persinyalan tersebut, maka sistem pengamanan perjalanan kereta api dilakukan hanya berdasarkan pertukaran warta antar stasiun, yang dicatat dalam buku warta kereta api. Indro, Benteng, Kalibaru, Banyuwangi Baru
sinyal_mekanik_blok_icon Siemens & Halske semi otomatis Persinyalan Siemens & Halske semi otomatis merupakan sistem persinyalan yang digerakkan secara mekanik/manual dengan perangkat blok elektro mekanis. Bentuk fisik persinyalan ini sama dengan Persinyalan Siemens & Halske manual yang dipasang tambahan lemari blok. Peran lemari blok ini sebagai interlocking antar stasiun. Ciri sistem persinyalan ini yaitu di atas tuas pengerak/handle sinyal ada alat pemutar dan lemari blok dengan beberapa jendela kaca kecil yang bisa menunjukkan warna merah atau putih, serta knop-knop penekan di atas jendela kecil tersebut. Persinyalan Siemens & Halske semi otomatis dapat dipakai untuk jalur utama di mana kepadatan perjalanan kereta api di jalur utama tergolong tinggi. Solo Jebres, Cepu, Bojonegoro, Surabaya Pasar Tur

Peralatan Telekomunikasi

Peralatan Telekomunikasi adalah seperangkat fasilitas yang digunakan untuk penyampaian informasi dan/atau komunikasi guna membantu keamanan, keselamatan dan kelancaran operasi kereta api.
Awal pertama kali kereta api beroperasi masalah telekomunikasi masih dianggap tidak terlalu penting. Namun sejalan dengan tuntutan semakin banyaknya kereta api yang berjalan pada suatu jalur jalan rel maka fungsi telekomunikasi menjadi sangat penting dan dibutuhkan. Sistem telekomunikasi yang pertama kali dilakukan adalah dengan menggunakan kurir untuk menjamin sistem keamanan jalur perjalanan kereta api. Seiring perkembangan teknologi telekomunikasi dengan ditemukannya tegangan listrik dengan arus rendah (elektro) maka peralatan telekomunikasi tersebut mulai dipasang pada perkeretaapian.
Peralatan telekomunikasi yang pernah dipergunakan dalam perkeretaapian Indonesia, antara lain :
Ikon Jenis Deskripsi Tipe/Seri
morse_icon Pesawat Morse Morse adalah alat yang digunakan untuk menerima dan mengirimkan berita antar stasiun. Di sepanjang rel kereta api didirikan tiang-tiang telegrap yang menghubungkan antar stasiun. Kode Morse menggunakan rangkaian yang sudah distandarisasi pendek dan panjangnya elemen garis atau titik untuk merepresentasikan huruf, angka, tanda baca dan karakter khusus untuk membuat pesan. Garis dan titik inilah yang dibaca oleh penerima berita di stasiun tentang kedatangan atau keberangkatan kereta api. Kode morse ini cukup rumit bila dibandingkan dengan sistem komunikasi perkerataapian saat ini.  
telp_inductor_icon Pesawat Telepon Induktor Telepon ini sejenis dengan 'interkom' karena tidak menggunakan nomor-nomor untuk menghubungi stasiun-stasiun kereta api. Cara mengoperasikannya dengan memutar alat pemutar yang ada di telepon ini sebagai penyambungnya. Pada telepon jenis ini terdapat sebuah kumparan induksi untuk membangkitkan arus signal bolak-balik ke papan sambung. Untuk membangkitkan tegangan arus signal bolak-balik dengan jalan memutar pada alat pemutar di telepon dengan kecepatan yang cukup.  
telp_selector_icon Pesawat Telepon Selektor Dalam perkembangan selanjutnya, muncul telepon yang menggunakan angka, sehingga untuk melakukan komunikasi antar stasiun harus memutar angka yang sesuai dengan nomor tujuan. Pulsa-pulsa yang dikirim dari roda pilih pesawat telepon, menggerakkan alat penyambung dan pemilihan dilakukan oleh setiap angka (digit) yang dikirim secara beruntun mulai dari angka pertama sampai angka terakhir. Kemudian selektor demi selektor menerima pulsa-pulsa dari roda pilih dan secara selangkah demi selangkah menjalin suatu hubungan sehingga akhirnya terciptalah suatu hubungan antara saluran-saluran satu sama lain.  

PETA JALUR KA PULAU JAWA

Peta Rute Jalur KA

Megahnya Situs Megalith Gunung Padang Cianjur


Megahnya Situs Megalith Gunung Padang Cianjur

 
  • Megahnya Situs Megalith Gunung Padang Cianjur
  Mengisi liburan lebaran tahun ini, tidak ada salahnya bagi Anda yang mungkin saja tidak ikutan mudik untuk berwisata mengunjungi tempat-tempat bersejarah. Tidak saja menghibur, tetapi akan lebih mengenalkan kita bahwa di negeri ini banyak sekali peninggalan-peninggalan bersejarah yang begitu besar. Apalagi bagi anak-anak, ini akan semakin meningkatkan kecintaan mereka pada sejarah Indonesia.

Salah satu peninggalan bersejarah yang sangat besar dan memiliki nilai yang tinggi dan lokasinya pun terbilang tidak jauh dari ibukota Jakarta, adalah Situs Megalith Gunung Padang. Berlokasi di propinsi Jawa Barat, tepatnya di Kabupaten Cianjur, yang terkenal dengan penghasil beras "berkelas" Indonesia dan terkenal pula dengan pakanan manisannya.

Situs Megalith Gunung Padang
Untuk menuju ke lokasi tidaklah sulit, walaupun petunjuknya kurang lengkap namun secara garis besar petunjuk-petunjuk tersebut  akan membantu perjalanan menuju lokasi situs. Ada beberapa alternatif jalan yang dapat ditempuh menuju lokasi, kita dapat melakukan perjalanan dari Sukabumi atau dari kota Cianjur. Kami mencoba memberikan informasi perjalanan dari Jakarta melewati tol Jagorawi menuju Ciawi - Puncak - Cianjur - Situs Gunung Padang. Dari Cawang melewati tol Jagorawi sampai Ciawi (45 KM), Ciawi menuju Cipanas (30 KM), Cipanas menuju Cianjur (18 KM), Cianjur sampai petunjuk di Warung Kondang (11 KM) dan selanjutnya menuju situs berjarak 20 KM, total jarak tempuh berkisar 124 KM.

Dari Cipanas Puncak menuju kota Cianjur, di perempatan Jalan Ir. H. Juanda, Jl. Dr. Muwardi (menuju Bandung), dan Jl. KH. Raden Abdullah (Jl. Cianjur - Sukabumi), menuju Warung Kondang - Sukabumi), lanjutkan perjalanan menuju Sukabumi melewati Supermal Cianjur (Hipermart) dan berkisar 11 KM ke depan di Warung Kondang nampak petunjuk di kiri jalan menuju situs. Dari petunjuk ini menuju lokasi, jalan terbilang kurang bagus dan ada beberapa ruas jalan yang cukup sulit dilalui kendaraan ber-chasis rendah (sedan).

Dalam perjalanan kita akan melewati perkampungan dan banyaknya hamparan pematang sawah nan luas bertera siring yang sangat indah, serta perkebunan teh yang luas menghiasi perbukitan dan lembah-lembah, sebutlah seperti perkebunan teh Gunung Rosa dan Gunung Manik. Perlu diperhatikan dan jangan segan-segan untuk bertanya arah perjalanan kepada masyarakat yang kita jumpai, karena kurangnya petunjuk arah yang terkadang membingungkan, seperti adanya pertigaan jalan yang tidak ada petunjuk arah situs.

Situs Megalith Gunung Padang berada di Desa Karyamukti Kecamatan Campaka Kabupaten Cianjur, dibuka untuk kunjungan wisata dari pukul 08.00 - 16.30  (tertera di papan penjelasan situs)


Tumpukan batu di salah satu sudut di Situs Megalith Gunung Padang

Sekilas informasi mengenai Situs Megalith Gunung Padang yang kami kutip dari situs Dinas Pariwisata Jawa Barat (www.disparbud.jabarprov.go.id)

Situs Gunung Padang merupakan punden bangunan berundak peninggalan jaman prasejarah. Situs ini merupakan salah satu situs megalitik terbesar di Asia Tenggara. Situs terletak di puncak bukit yang dikelilingi oleh lembah-lembah dan perbukitan.  Di sebelah tenggara terdapat Gunung Melati, di sebelah barat daya terdapat Pasir Empat dan Gunung Karuhun, di sebelah barat laut terdapat Pasir Pogor dan Pasir Gombong, dan di sebelah timur laut terdapat Pasir Malang.

Saksikan situs punden berundak ini yang terbagi menjadi 5 teras mengerucut dan dibangun dengan batuan vulkanik alami yang berbentuk persegi panjang. Teras pertama merupakan teras terbawah dan terluas berdenah segi empat. Pada jalan menuju teras pertama terdapat beberapa batu tegak di kiri kanan jalan. Di depan pintu ini terdapat susunan batu berdenah segi empat dan beberapa menhir serta adanya batu lumpang di sudut timur laut. Di teras kedua tedapat batu-batu tegak berukuran besar. Di teras ketiga terdapat lima kelompok bangunan yang sebagian besar berupa kelompok batu tegak.

Sebagian dari batu-batu tersebut telah roboh. Di teras terdapat balok-balok batu pada bagian tengah dan tiga bangunan di bagian timur laut. Bagian barat daya teras ini berupa tanah kosong. Teras kelima merupakan bagian paling atas dari situs ini. Pada bagian ini terdapat susunan batu tegak yang membentuk ruang segi empat.  Terdapat juga tinggalan lainnya berupa tumpukan monolit. Anda akan melihat bahwa situs ini unik dari sisi visual.

Semboyan Kereta Api



Semboyan Kereta Api

Dalam rangka terselenggaranya pengoperasian perjalanan kereta api yang aman, tertib dan lancar, maka semua pergerakan yang ada diaturlah dengan menggunakan Semboyan.
Menurut Peraturan Dinas 3 (PD 3) sebagai perubahan dan perbaikan serta penyesuaian dari Reglemen 3 (R 3) dalam BAB I, Pasal 1, Ayat (1),
yang dimaksud dengan Semboyan adalah,
pesan yang bermakna bagi petugas yang berkaitan dengan perjalanan kereta api sebagai :
a. Perintah atau larangan, yang ditunjukkan/diperagakan melalui orang atau alat berupa wujud, warna, cahaya atau bunyi, meliputi :
1) isyarat;
2) sinyal; dan
3) tanda.
b. Pemberitahuan tentang kondisi jalur, pembeda batas, dan petunjuk tertentu yang ditunjukkan melalui marka.

Situs Gunungpadang







Situs Gunungpadang merupakan situs prasejarah peninggalan kebudayaan Megalitikum di Jawa Barat. Tepatnya berada di perbatasan Dusun Gunungpadang dan Panggulan, Desa Karyamukti, Kecamatan Campaka, Kabupaten Cianjur. Luas kompleks "bangunan" kurang lebih 900 m², terletak pada ketinggian 885 m dpl, dan areal situs ini sekitar 3 ha, menjadikannya sebagai kompleks punden berundak